Mengapa Harus Ada Ujian Nasional?
UN atau Ujian Nasional merupakan ritual tahunan yang
harus dilalui oleh setiap siswa kelas VI SD/MI dan sederajat, IX SMP/Tsanawiyah
dan sederajat, dan XII SMA/SMK dan sederajat untuk mencapai suatu kelulusan. Ujian
Nasional menjadi suatu masalah bagi sebagian siswa, karena UN memiliki
target minimal kelulusan, yang apabila siswa tidak mencapai nilai tersebut maka
siswa tersebut dinyatakan tidak lulus dan harus mengikuti ujian ulang yang
tanggalnya telah ditetapkan pemerintah terutama Dinas Pendidikan.
Sampai saat ini UN menjadi bahan perdebatan di
kalangan masayarakat. Saya tahu, alasan diadakannya UN adalah untuk memperbaiki
mutu pendidikan indonesia. Tetapi yang menjadi pertanyaan, benarkan UN dapat
dijadikan tolak ukur keberhasilan untuk meningkatkan mutu pendidikan di
Indonesia?
Saya sendiri sebagai penulis, merasa kurang setuju
dengan diadakannya UN yang dijadikan sebagai standar kelulusan para siswa.
Berdasarkan pengalaman saya yang pernah mengikuti UN pada saat saya sekolah
dasar , saya tidak terlalu memikirkan dan mempedulikannya. Mungkin karena saya
masih kecil dan belum mengerti manfaat UN. Saat pelaksaan UN, saya menemukan
kecurangan. Guru saya datang ke saya dengan menyebutkan beberapa jawaban
terkait mata pelajaran tersebut. Begitu seterusnya sampai hari pelaksanaan yang
ke-3.
Berbeda dengan UN SMP saya. Ujian Nasional ini
sangat mempengaruhi diri saya secara psikologis. Stres yang berkepanjangan dan
akhirnya jatuh sakit. Saya sangat takut tidak bisa mendapat nilai yang tinggi. Pada
saat itu di sebut NEM. Karena NEM sangat menentukan kita akan diterima atau
tidak disekolah menengah Negeri. Tetapi saat pelaksaan UN tidak terdapat
kecurangan-kecurangan dari pihak sekolah. Hanya saja yang saya lihat,
teman-teman saya saling menukar jawaban. Karena soal hanya di acak urutan
nomornya saja.
Saat Ujian Nasional SMA 2016 saya kembali tertekan.
Kenapa tidak? Karena saat SMA banyak sekali yang akan dihadapi. Baik itu UAS,
Ujian Praktek, pemilihan PTN dan Jurusan untuk SNMPTN, belajar untuk persiapan
SBMPTN. Disaat seperti ini pemikiran saya terbagi-bagi dan membuat saya stres.
Saat UN berlangsung, banyak saya temukan kecurangan. Banyak teman saya yang
telah membeli kunci jawaban dengan harga Rp.100.000 untuk 6 mata pelajaran. Dan
yang saya lihat, pengawasnya pun tidak mengawasi dengan ketat. Mereka hanya
duduk dan berbincang-bincang dengan pengawas yang lain.
Banyak sekali kelemahan-kelemahan dari diadakannya
Ujian Nasional, selain dampak psikologis yang dialami siswa bahkan ada siswa
sampai depresi karena Ujian Nasional dan banyak ditemukannya
kecurangan-kecurangan, baik kecurangan yang dilakukan secara individu atau pun
secara berjamaah.
Kalau kita berpikir secara logis, apakah tidak ada
artinya perjuangan selama 3 tahun sekolah, dan hanya melihat nilai akhirnya
saja. Padahal, dari sekian banyak siswa yang tidak lulus, banyak pula dari
mereka yang memiliki nilai akademik yang luar biasa dalam sehari-harinya.
Mungkin hanya kesalahan secara teknis saja yang menyebabkan siswa tersebut
tidak lulus. Misalnya dalam mengisi lembar jawaban ia tidak terlalu pekat dalam
mengisi lembar jawaban tersebuta, atau saking stresnya yang harusnya diisi
dengan menghitamkan salah satu jawaban, ia malah mencoblosnya, mungkin teringat
PEMILU kemarin, atau bisa saja saat jawabannya di cek oleh komputer ternyata
komputernya error. Mengapa kecerdasan dan kepintaran siswa harus dinilai dengan
komputer?
Ironisnya, siswa yang sehari-harinya biasa saja
dalam akademiknya, bahkan terkenal kurang baik wataknya, malah dapat lulus.
Seandainya dipikir, bukankah hal ini sulit dimengerti? Bila kita berbicara
tentang Standar Nasional, hal itu pun akan sulit dipahami. Mohon maaf
sebelumnya, tidak berniat untuk membandingkan. Tetapi logikanya kualitas
pendidkan yang ada di kota, misalnya Jakarta, tentunya kualitasnya akan berbeda
dengan yang ada di Papua. Lalu bagaimana Ujian Nasional dapat dijadikan standar
untuk kelulusan secara nasional, sementara mutunya saja sudah berbeda.
Ujian Nasional memang perlu, tetapi bukan sebagai
tolak ukur atau yang menentukan kelulusan siswa dengan nilai minimal yang telah
ditetapkan. Jadikan Ujian Nasional sebagai penentu seorang siswa untuk masuk
Perguruan Tinggi (negeri atau swasta), dan bagi siswa/siswi SMP dijadikan
sebagai modal untuk masuk SMA yang diinginkan ( negeri yang favorit), begitu
pun dengan SD.
Komentar
Posting Komentar